Selamat Hari Bumi
Diposting oleh
Ageung
di
20.01
Efek Bumerang Pembangunan Fisik di Sukabumi
Diposting oleh
Ageung
di
20.00
Artikel ini pernah dimuat dalam sukabumitoday.com (http://www.sukabumitoday.com/2012/01/efek-bumerang-pembangunan-fisik-di.html) pada tanggal 16 Januari 2012
Di sukabumi, sejak setengah dekade terakhir telah dibangun Jalan Jalur Lingkar Selatan. Saya menyebutnya ini sebagai sebuah mega-proyek, proyek besar. Tentu saja dengan alasan betapa besar uang yang dipakai untuk menuntaskan proyek tersebut, pun sebanding dengan akibat yang besar dari pembangunan jalan tersebut, jalannya pun memang sangat besar.
![]() | |
|
Dalam kehidupannya, manusia selalu terkurung oleh apa yang ada di dalam pikirannya, khususnya oleh hal-hal yang dapat diukur, kuantitatif. Pandangan terhadap pentingnya pembangunan sebuah jalan, Gang, MCK, Irigasi, dan renovasi fisik lainnya selalu tertuju pada berapa besar anggaran yang digunakan, dampak terhadap pembangunan pun harus selalu bisa diukur. Artinya, pembangunan tersebut dilakukan dengan mengacu kepada hal-hal yang bisa diukur, sudah tentu karena penjara pikiran kita telah dikuasai oleh materi, arah dan kebijakan pembangunan pun harus selalu menuntaskan segala hal yang bisa diukur oleh fisik kita, bisa dilihat oleh mata. Ketika di hadapan kita telah berdiri sebuah gedung posyandu, jalan memanjang dan lebar, maka kita akan berdecak kagum bahwa pembangunan telah berhasil.
Ruang Buruh
Diposting oleh
Ageung
di
11.09
Diposting oleh
Ageung
di
19.16
Permisi, ini bukan tulisan narsis…
Saya adalah seorang gadis desa yang berasal dari sebuah kota kecil di Sukabumi. Saya sering mendengar kata ‘Depok’. Ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar hingga kini (usia saya 21 tahun), hampir semua teman sekolah memanggil saya ‘BelandaDepok’. Ya, saya tahu mengapa, hanya karena persoalan warna kulit saya yang putih. Dan kebetulan dulu sewaktu saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, saya sering pulang pergi ke Depok untuk mengunjungi para saudara di sana. Tinggal naik bus jurusan Sukabumi – Depok , satu kali.
Lalu, kenapa Belanda Depok? Sekali lagi ini bukan tulisan narsis! Kulit saya memang putih, karena sisa darah Belanda yang mengalir dari buyut saya. Itu pun hanya sisa. Dan kata ‘Belanda Depok’ pun tidak ada hubungan sama sekali dengan aktivitas saya yang sering berkunjung ke Depok.
Bank Keliling
Diposting oleh
Ageung
di
00.39
Artikel pernah dimuat dalam akumassa.org ( http://akumassa.org/kontribusi/sukabumi-jawa-barat/bank-keliling/ )
Aku akan memulainya dengan kata ‘Bank’. Menurut undang-undang perbankan, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Kata ‘bank’ sendiri berasal dari Bahasa Itali, yaitu banque atau banca yang berarti bangku. Para bankir Florence pada masa Renaissans melakukan transaksi mereka dengan duduk di belakang meja penukaran uang, berbeda dengan pekerjaan kebanyakan orang yang tidak memungkinkan mereka untuk duduk sambil bekerja.
Aku akan memulainya dengan kata ‘Bank’. Menurut undang-undang perbankan, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Kata ‘bank’ sendiri berasal dari Bahasa Itali, yaitu banque atau banca yang berarti bangku. Para bankir Florence pada masa Renaissans melakukan transaksi mereka dengan duduk di belakang meja penukaran uang, berbeda dengan pekerjaan kebanyakan orang yang tidak memungkinkan mereka untuk duduk sambil bekerja.
Tidak ada habisnya cerita-cerita dari kampungku. Dan semuanya itu tidak lepas dari pabrik dan pinjam meminjam.
Parungkuda, Sukabumi juga banyak Bank yang tersebar. Bank-bank yang kita kenal lewat iklan yang ada di mana-mana. Bank resmi yang diakui oleh pemerintah. Selain menabung, kita pun bisa meminjam uang, tentunya dengan jaminan. Berbagai macam jaminan, seperti: surat tanah, BPKB mobil atau motor, surat rumah dan sebagainya. Kita tinggal datang ke bank dan membawa surat-surat yang akan dijaminkan. Fenomena pinjam meminjam sangat diminati di kampungku. Tak jarang orang akan rela menjaminkan rumahnya untuk meminjam uang.
Banyaknya pabrik berjejer sehingga membuat orang-orang lebih memilih untuk bekerja di sana dari pada meneruskan sekolahnya. Pabrik menawarkan lapangan pekerjaan, tentunya sebagai buruh pabrik. Fenomena pabrik ini mencerminkan kemiskinan struktural. Karena kebijakan pemerintah yang mengijinkan para pengusaha untuk membangun usahanya di kampungku, sehingga pengusaha dapat memanfaatkan sumber daya, yaitu orang-orang untuk dipekerjakan dan dibayar murah. Tetapi pemerintah tidak memajukan pendidikkan bagi orang-orang di kampungku. Sehingga banyak teman-temanku yang memutuskan berhenti sekolah dan kemudian bekerja sebagai buruh pabrik.
![]() |
| Para karyawaan pabrik |
Artikel ini pernah dimuat dalam akumassa.org ( http://akumassa.org/program/lenteng-agung-jakarta-selatan/11-11-11/ )
Pagi itu aku, Otty, Diki dan Fauzi sedang berada di ruangan akumassa dengan kesibukan masing-masing. Sayup-sayup aku sedikit mendengarkan perbincangan mereka tentang hujan es. Dengan spontan aku menyela obrolan mereka.
“Kiamat ya?”
“Apaan?” tampak Otty kebingungan.
![]() |
| Ilustrasi kiamat pada film 2012 DoomsDay |
Aku jelaskan kenapa aku menyebutkan kata ‘kiamat’. Dulu waktu aku masih duduk di bangku kelas 3 SD ada isu tentang kiamat dan akan adanya hujan es. Aku sendiri tidak tahu gosip itu berasal dari mana. Dikabarkan pada tanggal 9 September 1999, tepatnya pada pukul 09.09 WIB pagi kiamat akan datang. Semua pun tahu apa itu kiamat. Kiamat adalah hari kehancuran alam semesta. Aku dan hampir semua teman di sekolah merasa takut akan kedatangan hari kiamat itu. Saking takutnya, kami berencana tidak masuk sekolah pada tanggal 9 September. Malah ada salah satu temanku yang terkenal pelit, ketika beberapa hari menjelang hari kiamat dia berubah menjadi dermawan. Guru-guru juga mendengar gosip kiamat itu, tapi mereka terlihat santai.
Pada hari H, memang banyak teman-temanku yang tidak masuk sekolah. Aku terpaksa harus sekolah karena diomeli oleh ibu. Setiap satu kelas hanya ada sekitar 5-10 anak yang masuk sekolah. Sekolah tampak lenggang, akhirnya sekolah diliburkan dan kami pun pulang kembali ke rumah. Di perjalanan aku merasa was-was takut kiamat terlalu cepat datang. Berlari dengan mulut komat-kamit membaca surat-surat pendek yang aku hafal. Sampai lah aku di rumah. Aku pikir lebih baik kiamat datang ketika aku tidur. Aku pun memaksa diri untuk tidur. Dan tertidurlah aku.
Buruh dan Asap
Diposting oleh
Ageung
di
17.11
Artikel ini pernah dimuat dalam akumassa.org (http://akumassa.org/kontribusi/sukabumi-jawa-barat/buruh-dan-asap/)
Kisah dari seorang teman...
Sukabumi, saat mendengar nama salah satu kota di Jawa Barat ini pasti banyak hal yang melintas di benak anda.
![]() |
| Buruh batu kapur, hal lainnya yang juga ada di Sukabumi |
Mulai dari Pantai Pelabuhan Ratu yang terkenal dengan ombaknya yang ganas dan legenda Nyi Roro Kidul, indahnya curug (air terjun) Cibeureum dan Situ Gunung, perkebunan teh di Salabintana, Pantai Ujung Genteng yang indah, Moci (Kue berbahan dasar tepung ketan, gula, kacang tanah, gula tepung, dan tepung tapioca-Red), Mie Kocok, padatnya Pasar Cicurug dan Pasar Cibadak, Ilmu Santet dari Jampang yang menyaingi dukun-dukun dari Banten, banyaknya warga yang mengadu nasib di luar negeri sebagai TKI, dan tentunya budaya pernikahan dini yang belum juga hilang.
Masih banyak yang bisa dilihat dari Sukabumi, biasanya kota ini akan ramai saat musim liburan tiba. Letaknya yang tidak terlalu jauh dari Jakarta juga menjadikan Sukabumi sebagai pilihan utama keluarga untuk berlibur, biasanya Pantai Pelabuhan Ratu dan Kebun Teh Salabintana akan sangat ramai saat tahun baru tiba. Saya sendiri tinggal di Bojong Lopang, salah satu daerah yang berada di Jampang Tengah, Sukabumi.
![]() |
| Jalan berliku menuju Bojong Lopang |
Langganan:
Postingan (Atom)











